Juni 6th, 2011 by pinoe
![]()




































































































































































































































































Beragam tablet Android sudah beredar. Masing-masing punya kelebihan tersendiri untuk tampil prima di mata konsumen. Berikut tablet Android yang sudah atau segera dipasarkan dan cukup layak dinyatakan sebagai yang terbaik, dilansir TechRadar dan dikutip detikINET, Rabu (18/5/2011):
1. Asus Eee Pad Transformer
Dengan keunikannya, Eee Pad Transformer dinilai sebagai tablet Android ngetop. Tak hanya powerfull dan berfitur lengkap, Eee Pad dapat seketika diubah menjadi netbook kala disatukan dengan keyboard dock. Sudah begitu, harganya cukup terjangkau. Sebagai gambaran, di Inggris tablet ini dibanderol 429 Poundsterling, sudah termasuk keyboardnya.
2. Samsung Galaxy Tab 10.1
Dengan bodi tertipis di dunia, pengguna yang mementingkan gaya rasanya akan melirik Galaxy Tab 10.1. Di beberapa negara, tablet ini dilengkapi kamera 8MP yang menjanjikan kualitas foto prima. Sayang di Indonesia, Galaxy Tab cuma dibekali kamera belakang 3MP.

3. Motorola Xoom
Motorola Xoom adalah tablet pertama yang dipasarkan dengan OS Android Honeycomb. Sayangnya, harganya memang terbilang mahal. Namun itu ditebus dengan kualitas bodi yang baik, baterai awet serta perfoma bagus. Jika harganya menurun,

4. LG Optimus Pad
Sebuah nilai tambah ditawarkan Optimus Pad, yakni kemampuan merekam 3 Dimensi (3D). Hal itu dilakukan dengan kombinasi dua kamera belakang yang masing-masing beresolusi 5MP. Memang untuk melihat tampilannya masih harus melalui televisi 3D, namun tablet ini bisa jadi pilihan bagi yang gemar dengan teknologi 3D.

5. Acer Iconia Tab A500
Iconia Tab A500 baru saja diluncurkan Acer. Tablet ini tampil dengan balutan metal di sekujur tubuhnya sehingga memperlihatkan kesan yang solid dan elegan. Faktor eksterior yang berkelas ini mungkin membuatnya dilirik user yang mementingkan gaya, meski tablet ini terasa licin kala dipegang.
![]()
6. HTC Flyer
HTC Flyer memang masih memakai Android Gingerbread sementara para rival ramai menerjunkan tablet Honeycomb. Namun dengan interface HTC Sense, tampilan tablet ini lumayan bagus meski masih menjalankan OS lama. Dijanjikan pula bahwa update Honeycomb hanyalah soal waktu. Faktor desain tak kalah menarik dengan alumunium unibody.










Tablet berbasis Android Honeycomb mulai bertebaran. Para vendor pun mencari celah agar produknya memiliki keunggulan dibanding yang lain. Tak terkecuali Galaxy Tab 10.1, tablet jagoan baru dari Samsung yang rencananya akan dipasarkan awal Juni mendatang di Indonesia.
Ketika dipegang, detikINET terkesan dengan betapa tipis bodi komputer tablet ini. Ya, inilah rupanya salah satu kelebihan yang coba ditawarkan Galaxy Tab 10.1, bodinya diklaim tertipis di dunia.

Dengan tebal cuma 8,6 mm, rasanya memang tidak ada tablet lain yang mengalahkan ketipisannya. iPad 2 yang sebelumnya memiliki predikat tertipis pun kalah karena lebih tebal 0,2 mm dari Galaxy Tab 10.1.
Ketika ditenteng pun beratnya terbilang ringan. Samsung menyebut bobotnya cuma 595 gram. Bobot ini katanya lebih ringan dari Samsung Galaxy Tab versi layar 7 inch.
Bodinya sendiri masih terbuat dari plastik, namun terkesan elegan dan tidak murahan. Tablet ini terasa kokoh dan nyaman dipegang, meski tentunya tidak seportabel yang versi 7 inch.
Tidak banyak tombol di tubuh Galaxy Tab 10.1. Memang software Android Honeycomb tidak memakai lagi tombol navigasi di bodi gadget. Hanya dijumpai colokan headphone standar, port charging dan slot untuk SIM Card.
Mungkin perlu diinformasikan bahwa Galaxy Tab 10.1 ini tidak punya kemampuan untuk melakukan telepon seperti adiknya. Menurut Samsung, Google tidak mengizinkan Android Honeycomb disertai kemampuan itu.

Android Honeycomb
Sesuai namanya, Galaxy Tab 10.1 memiliki layar teknologi kapasitif seluas 10,1 inch WXGA dengan resolusi mencapai 1280×800. Ketika dilihat, layar ini cukup jernih dan nyaman di mata.
Android Honeycomb jadi sistem operasinya. Secara tampilan, tentu nyaris tak ada perbedaan dengan Honeycomb yang dipakai di tablet Android Honeycomb dari pabrikan lainnya. Namun Samsung berjanji bakal menambahkan interface TouchWiz andalannya yang belum ada pada unit demo.
Honeycomb sengaja didesain Google khusus untuk perangkat tablet dan dioptimalkan pada layar yang lebih luas, tidak seperti versi Android sebelumnya yang sejatinya ditujukan untuk smartphone. Tentu saja berbagai kelebihan disandang oleh si \’sarang madu\’ ini.
Navigasi di Honeycomb terbilang memudahkan pengguna. Misalnya fitur Recent Apps berguna untuk menampilkan beberapa aplikasi yang baru saja diakses oleh user.
Jika Recent Apps disentuh, akan muncul lima aplikasi yang terakhir dibuka, lengkap dengan nama dan thumbnail tampilan terakhirnya. Recent Apps tersedia di sudut bawah bersama tombol Home dan Back.
Honeycomb juga memperbaiki tampilan keyboard, browser dan kapabilitas copy paste lebih baik. Hanya saja mungkin kekurangannya pada soal aplikasi yang belum bergitu banyak tersedia. Mungkin karena usia OS ini yang boleh dibilang masih muda.
Galaxy Tab 10.1 mengandalkan prosesor dual core 1GHz Tegra 2 yang seharusnya membuat performa tablet lebih powerfull. Namun saat dicoba menggeser homescreen, ada sedikit kesan lag. Mungkin karena baru unit demo, maka performanya pun belum maksimal.
Fitur lainnya meliputi kamera belakang berkekuatan 3 megapixel dan kamera depan 2 megapixel. Asyiknya, kamera belakang sudah dilengkapi flash untuk menambah performa kamera jika dipakai dalam situasi gelap. Tablet ini juga mampu merekam video kualitas 720p HD.
Kapasitas penyimpanan terdiri dari dua pilihan yaitu 16GB dan 32GB. Secara keseluruhan, tablet ini tampil bergaya dengan ketipisannya dan bisa menjadi alternatif tablet Android Honeycomb yang mumpuni. Terlebih lagi bagi penggemar Galaxy Tab versi 7 inch mungkin bakal meliriknya karena Galaxy Tab 10.1 membawa segudang perbaikan fitur.
Spesifikasi kunci:
Jaringan: HSPA+ 21 Mbps, EDGE/GPRS
OS: Android 3.0 (Honeycomb)
Layar: 10,1 inch WXGA 1280×800
Prosesor: 1GHz Tegra 2 Dual Core
Kamera: 2MP (depan) dan 3MP (belakang) dengan LED Flash
Format video: MPEG4/H263/H264, Divx/Xvid
Solusi Bisnis: Microsoft Exchange ActiveSync, QuickOffice HD Editor
Konektivitas: Bluetooth 2.1, Wi Fi 802.11 (a/b/g/n)
Sensor: Gyroscope, Accelerometer, Digital Compass, Ambien Light
Baterai: 6800 mAh









Xperia Arc adalah produk unggulan Sony Ericsson di tahun 2011. Vendor patungan Swedia-Jepang tersebut pun membenamkan berbagai teknologi terkininya di Xperia Arc. Beberapa waktu lalu, detikINET sempat melakukan quick review terhadap ponsel berbasis Android Gingerbread ini. Sekarang, mari kita simak pengujian lebih lanjut terhadap Xperia Arc.
Desain Berkelas
Di samping software yang handal, faktor desain sebuah ponsel jelas tak kalah penting untuk memikat konsumen. Dan Sony Ericsson tampak berupaya keras membuat diferensiasi desain produknya ini.
Seksi, itulah yang terpancar dari bodi Xperia Arc. Desainnya khas, dengan bagian belakang melengkung ke dalam. Terlebih lagi, Arc termasuk smartphone tertipis di dunia dengan bagian tertipis hanya 8,7 mm.

Layar lebarnya berukuran 4,2 inch, membuat ponsel ini terlihat bongsor. Bagian belakang ponsel terbuat dari bahan plastik. Meski demikian, plastik ini terlihat solid dan tidak terkesan murahan. Bagian pinggirnya dihiasi oleh lapisan metal. Boleh dibilang, desain tampilan luar Xperia Arc bergaya dan amat berbeda ketimbang ponsel Android lainnya. Sudah begitu bobotnya pun enteng, mungkin dikarenakan tipisnya bodi ponsel cerdas ini.
Bagian bawah layar memiliki tiga tombol navigasi dengan bentuk khas Sony Ericsson. Bahannya terbuat dari plastik mengkilat dan tak ada kesulitan berarti saat menekannya. Di bagian atas terpampang tombol on/off dasn port HDMI. Kemudian lubang headpohone 3,5 mm ada di sisi kiri. Sisi kanan dihiasi tombol volume dan tombol kamera.
Sayangnya, beberapa tombol berukuran kecil sehingga cukup susah digunakan, utamanya pada tombol kamera. Seringkali tangan terpeleset ketika coba mengoperasikannya.

Unjuk Teknologi Sony
Sekarang beralih ke sisi performa. Xperia Arc sudah dibekali Android Gingerbread atau versi 3.0, versi terkini OS \’robot hijau\’. Kemudian prosesornya berkekuatan 1 GHz. Apa saja kemampuan yang ditawarkan Sony Ericsson di ponsel ini?
Pertama tentu perhatian tertuju pada bagian layar 16 juta warna beresolusi 854×480. Sony Ericsson memakai teknologi yang dijuluki sebagai Reality Display. Tampak nyaman di mata, layar ini menghasilkan tampilam yang tajam dan halus, bahkan cukup jelas terlihat di bawah sinar matahari.
Teknologi Sony Bravia Mobile ikut disertakan, yang diklaim mempertajam kontras dan ketajaman gambar foto dan video. Ketika dipakai untuk melihat foto pemandangan alam, gembar gembor tersebut cukup terbukti. Foto terlihat jernih dan warna-warna mampu diterjemahkan dengan baik. Kontras warna memang tergambar jelas, misalnya warna merah tampak menyala.

Sektor kamera diperkuat dengan Exmor R, sebuah sensor yang biasanya cuma ditemukan di kamera buatan Sony. Fitur ini diklaim meningkatkan sensitivitas kamera saat digunakan di aera yang minim cahaya. Dan pengujian detikINET sedikit banyak membuktikannya.
Saat digunakan dalam ruangan gelap gulita dan hanya sedikit cahaya di obyek yang dibidik, hasil kamera Arc jelas terlihat lebih baik dibanding bidikan smartphone yang jadi pembanding, dalam hal ini LG Optimus 2X yang sama-sama berkekuatan 8 megapixel. Meski sama-sama terlihat remang, obyek yang dibidik via Arc terlihat lebih terang dan jelas hasilnya.
Dalam situasi biasa, hasil foto tampak bagus. Komposisi warna terlihat akurat. Ponsel ini juga sudah menyediakan penerangan LED Flash danberbagai macam fitur pemotretan seperti touch focus, image stabilization, geo-tagging, dan smile detection
Arc juga mampu merekam video kualitas HD 720p yang mumpuni saat merekam momen yang diinginkan. Dan berkat adanya fasilitas HDMI, maka user dapat menghubungkannya dengan layar yang lebih besar, misalnya televisi, untuk menyaksikan hasil rekaman. Keberadaan HDMI tidak cuma sebatas menampilkan gambar atau video, tapi juga dapat menayangkan menu lain.

Di sisi pemutar musik, interfacenya kelihatan minimalis seperti di ponsel Android lainnya. Output suara via speaker terdengar biasa saja, malah terkesan agak pecah jika diputar dalam volume tinggi. Namun ketika headset sudah dipasang, kualitas suara bisa diandalkan dan musik mengalun jernih.
Android 2.3.2
Android Gingerbread versi 2.3.2 menjadi sistem operasi Xperia Arc. Ini adalah keunggulan tersendiri karena berbagai ponsel baru masih memakai versi Android di bawahnya, meski mungkin ada janji untuk melakukan updgrade nantinya. Gingerbread menawarkan berbagai kelebihan seperti copy paste lebih baik ataupun manajemen daya yang lebih bagus.
Layar di Xperia Arc memiliki 5 buah homescreen yang bisa dikustomisasi sesuai keinginan pengguna. Perpindahan antar layar ini dapat berjalan dengan mulus meski terkadang ada sedikit gejala lag.
Menariknya terdapat mode Overview di mana pengguna dapat mengumpulkan semua widget yang ada di semua layar pada satu layar saja. Jadi user dapat melihat semua widget yang mereka tampilkan di layar dengan mudah.

Handset ini juga disertai dengan aplikasi Timescape. Fitur ini mengintegrasi akses ke berbagai jejaring sosial. Sony Ericsson tidak menyatukan TimeScape secara langsung ke UI Arc, namun menyediakannya sebagai aplikasi terpisah. Hal ini memudahkan jika user tidak ingin menggunakannya.
Dari sisi memori internal, Arc cuma menyediakan kapasitas sebesar 320 MB. Namun Sony Ericsson sudah menyediakan microSD berkapasitas 8GB yang sudah termasuk dalam paket penjualannya.
Untuk performa baterai, Arc dibekali sumber daya 1600 mAh. Dengan penggunaan biasa-biasa saja tanpa banyak akses internet atau main game, Arc dapat bertahan kurang lebih 20 jam. Namun daya tahan ini dapat berkurang drastis jika user banyak memakai Arc untuk melakukan bermacam fungsi.
Secara umum, Xperia Arc pantas dijadikan ponsel andalan Sony Ericsson. Wujudnya yang seksi dengan bekal berbagai teknologi terkini membuatnya jadi penantang serius di jagat smartphone Android yang kini disesaki begitu banyak model. Bekal Android Gingerbread dan teknologi seperti Exmor R serta Bravia Engine yang cukup terbukti kemampuannya, membuat Arc bisa jadi pilihan menarik.
Kelebihan:
- Desain seksi
- Android Gingerbread
- Exmor R dan Bravia Engine
Kekurangan:
- Beberapa tombol terlalu kecil
- Memori internal kecil

Nuansa mobil sport nan agresif coba diterjemahkan Asus dalam perangkat netbook barunya, Asus Eee PC Lamborghini VX6. Ya, netbook premium ini menyandang nama Lamborghini, merek mobil sport tenar asal Italia. Penampakan bagian luarnya memang agresif, mirip dengan sebuah moncong mobil sport. Lekuk-lekuk tegasnya menambah kesan garang. Secara keseluruhan, desain VX6 agresif dan solid, meski kenyataanya sebagian bahannya dari plastik.

Pernak pernik ala Lamborghini kental terasa. Misalnya, terdapat logo banteng bertuliskan Automobili Lamborghini di bagian belakang layar. Kemudian ketika dinyalakan, pengguna langsung disambut dengan bunyi deruman mesin layaknya mobil sport yang sedang beraksi. Tak ketinggalan, ada screensaver khusus yang menggambarkan kaitan erat antara VX6 dengan mobil sport Lamborghini.
Ketika VX 6 dibuka, interior bagian dalam yang didominasi warna hitam pun kelihatan berkelas. Keyboardnya berdiri sendiri dan memiliki jarak yang cukup lebar untuk memudahkan pengetikan. Area touchpad berukuran luas dan didominasi bahan mengkilat nan stylish. Ketika dicoba untuk mengakses menu di layar, responnya terhitung sensitif.
Tidak seperti kebanyakan netbook, VX 6 memiliki layar terbilang luas yang seukuran 12,1 inch. Hal ini menguntungkan untuk melihat konten multimedia. Resolusi sendiri sudah mencapai 1.336×768 yang membuat obyek-obyek di layar tampil tajam dan nyaman dilihat mata.

Kelebihan lain yang ditawarkan oleh netbook ini adalah sudah disertakannya port HDMI. Kemudian USB sudah berteknologi 3.0 yang secara teori mampu membuat transfer data lebih cepat daripada versi sebelumnya. Urusan konektivitas internet ditunjang pula dengan Wi Fi 802.11n dan Gigabit Ethernet.
Beralih ke fitur audio. Ketika dicoba memperdengarkan berbagai lagu, suara yang mengalun dari dua speaker VX 6 terdengar jernih dan bertenaga, tidak ada kesan cempreng meski diputar dalam volume tinggi. Ya, rupanya ini berkat kehadiran teknologi bernama Ice Power dari Bang & Olufsen, yang menambah kualitas output audio di VX6.
Dari sisi dapur pacu, Asus coba mengandalkan prosesor Intel® Atom™ D525 (Dual Core; 1.8GHz) untuk menangani tugas-tugas komputasi. Kehadiran prosesor dual core ini tampak terasa dalam mulusnya VX 6 ketika dipakai melakukan browsing web, mengakses Office, sampai konten multimedia.

Memang sebagai notebook premium, hardware yang dihadirkan lebih tinggi dari netbook lainnya. RAM 2048MB DDR3 dan kehadiran prosesor grafis Nvidia Ion menambah daya pikatnya. Ujung-ujungnya, VX 6 mampu menangani pemutaran video kelas HD alias High Definiton dengan lancar. Urusan ngegame juga lebih baik dibandingkan netbook lain, meski tetap tidak seoptimal di laptop.

Sedangkan daya tahan baterainya ditunjang pula dengan teknologi Nvidia Optimus.Teknologi ini dapat memfasilitasi pergantian grafis terintegrasi dengan grafis terpisah sesuai kebutuhan untuk memberikan solusi grafis optimal, sehingga menambah daya tahan baterai dalam prosesnya.
Secara keseluruhan, netbook ini menawarkan desain yang stylish, didukung oleh performa yang solid. Gaya ala mobil sport Lamborghini sepertinya bakal membuat orang-orang banyak meliriknya. Barangkali satu yang jadi kelemahannya, netbook ini terasa lebih berat dan besar dibanding netbook kebanyakan. Namun demikian jika hal ini tidak menjadi masalah, Anda bisa meminangnya dengan harga cukup tinggi tentunya.

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!